Kamis, 12 Maret 2009

'Perang Politik' Livni dan Barak

Kamis, 08 Januari 2009 pukul 06:58:00

Oleh Harun Husein

Ada banyak teori untuk menjelaskan serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember lalu. Salah satunya, serangan itu sesungguhnya merupakan sebuah ''perang politik'' demi kepentingan pemilu 10 Februari 2009. Aktor-aktor di Israel sedang membangun dan mengokohkan singgasananya di atas tumpukan mayat orang Palestina.

Bahwa kepentingan politik yang menjadi pemicunya, disampaikan secara tidak langsung oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. ''Saya memberi tahu Ehud Barak dan (Tzipi) Livni untuk melupakan pemilu, sebab sejarah akan menghakimi mereka, karena mereka meninggalkan noda hitam kemanusiaan,'' kata Erdogan di Parlemen Turki, Selasa (6/1).

Erdogan yang negaranya memiliki hubungan baik dengan Israel, memang sudah gerah dengan kebuasan agresi militer Israel ke Jalur Gaza. Kebuasan yang menewaskan lebih dari 500 orang, dan melukai 2000-an orang. Terlebih, banyak korban itu orang sipil belaka, di antaranya anak-anak dan perempuan. ''Alasan apa yang bisa membenarkan pembantaian ini?'' kata Erdogan.



Serangan ke Gaza, yang dilakukan dua bulan menjelang pemilu ke-18 Israel itu, memang diduga punya pertalian dengan upaya mendongrak popularitas Menteri Luar Negeri Israel, Tzipora Malka 'Tzipi' Livni, dan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak. Livni saat ini adalah ketua umum Partai Kadima, Ehud Barak ketua umum Partai Buruh.

Menjelang pemilu, Livni dan Barak mendapat tantangan dari Ketua Umum Partai Likud, Benjamin Netanyahu. Netanyahu yang ingin come back ke kursi perdana menteri (PM), memang sedang menanjak popularitasnya. Survei yang dilansir Channel-1 memperlihatkan, jika pemilu digelar 25 November 2008, partai kanan-tengah itu akan memenangi 37 kursi parlemen Israel (Knesset).

Adapun Kadima, partai tengah beraliran liberal, itu akan berkurang kursinya dari 29 pada Pemilu 2006, menjadi 25 jika pemilu digelar dua bulan lalu. Yang paling terperosok adalah Partai Buruh. Partai berideologi sosial-demokrat itu pada Pemilu 2006 meraih 19 kursi. Tapi, bila pemilu digelar dua bulan lalu, kursinya hanya akan tinggal tujuh. Adapun partai ultra-orthodoks, Shas, juga akan berkurang kursinya dari 12 menjadi 11 (selengkapnya lihat tabel).

Konstelasi inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab Partai Kadima dan Partai Buruh yang saat ini berkoalisi dalam pemerintahan--menggerakkan mesin-mesin perang Israel menggempur Gaza. Kadima yang selama ini selalu memilih jalan perundingan, justru mengumandangkan perang saat dipimpin seorang wanita: Livni.

Apa hasilnya? Serangan itu mendapat sambutan dari rakyat Israel. Polling yang dilansir harian Israel, Haaretz, pada 1 Januari lalu, menyatakan 52 persen responden mendukung serangan udara ke Palestina dilanjutkan; 19 persen menghendaki militer Israel segera mengirim pasukan daratnya menyerang Jalur Gaza; dan 19 persen menghendaki pemerintah Israel sebaiknya maju ke meja perundingan untuk melakukan gencatan senjata.

Analisis terhadap hasil polling ini menyebutkan Ehud Barak yang dinilai gagal dalam perang melawan Hizbullah dan Partai Buruh menjadi pihak yang paling banyak diuntungkan oleh opini publik itu. Apalagi, masih menurut survei itu, lebih dari separuh rakyat Israel menyatakan puas pada performa Ehud Barak. Angka ini naik signifikan dibanding 34 persen kepuasan pada Barak, enam bulan lalu.

Serangan itu pun mempertinggi tingkat keterpilihan Partai Kadima dan Partai Buruh. Jika pemilu digelar 1 Januari--menurut Survei yang digelar pada 31 Desember 2008, di bawah supervisi Profesor Camil Fuchs dari Universitas Tel Aviv--Partai Buruh akan bersaing ketat dengan partai-partai beraliran kanan seperti Partai Likud maupun partai-partai beraliran ultra-orthodoks, seperti Shas.

Bahkan, serangan ke Palestina pun ikut mendongrak popularitas PM Ehud Olmert. Padahal, mantan ketua umum Partai Kadima ini sempat terpuruk citranya gara-gara kasus korupsi, mengundurkan diri dari posisi PM, bahkan lengser dari ketua umum Kadima pada 17 September 2008. Kini, popularitas Olmert menyundul 33 persen, padahal rating rata-ratanya hanya 14 persen.

Kursi PM
Dalam pemilihan internal Partai Kadima untuk menduduki posisi ketua umum, Livni mengalahkan politisi kawakan seperti Shaul Mofaz yang meraih 42 persen suara. Livni menang tipis dengan 43,1 persen suara, atau 16.936 suara. Petinggi Kadima lainnya yang juga dikalahkan oleh Livni adalah Meir Sheetrit dan Avi Dichter. Terpilih ketua umum Kadima, membuat kans Livni menjadi PM semakin besar.

Sebenarnya, dengan pengunduran diri Ehud Olmert sebagai perdana menteri (kini Olmert menjadi caretaker, sampai terpilihnya PM baru--Red), Livni bisa menjadi PM. Tapi, pada 24 Oktober 2008 lalu, Shas menolak bergabung dalam pemerintahan koalisi. Livni gagal meraih dukungan minoritas untuk bergabung dalam pemerintahan koalisi, sehingga Livni pun menemui Presiden Shimon Peres untuk menjadwalkan pemilu baru.

Beberapa saat setelah pemilu ke-17 Israel yang digelar pada 28 Maret 2006 lalu, Livni telah digambarkan sebagai orang kuat nomor dua di Israel. Pada 2007, Livni masuk dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Muka Bumi, versi majalah Time. Majalah Forbes pun menempatkan wanita ini dalam daftar 'wanita kuat' di dunia.

Sebelum masuk Partai Kadima, Livni bergabung di Partai Likud. Ketika mantan PM Israel Ariel Sharon dan Ehud Olmert mendirikan Partai Kadima pada 20 November 2005, Livni--bersama sejumlah petinggi Likud seperti Shaul Mofaz--ikut bergabung. Pada Pemilu 2006, Partai Kadima langsung meraih suara terbesar, mengalahkan dua partai legendaris, Likud dan Buruh, dan berhasil meraih kursi mayoritas Knesset.

Pada Mei 2006, Livni menjadi wakil perdana menteri dan tetap menjabat sebagai menteri luar negeri. Dia juga sempat menjabat sebagai menteri kehakiman. Karier wanita vegetarian ini memang moncer. Livni yang merupakan mantan tentara berpangkat letnan, serta mantan agen dinas rahasia Israel, Mossad, masih punya kans besar menjadi PM perempuan kedua setelah Golda Meir.

Tapi, agresi Israel ke Gaza ini merupakan perjudian tingkat tinggi bagi karier politik Livni maupun Barak. Ehud Olmert maupun Ehud Barak menyatakan serangan terutama serangan darat akan berlangsung cepat. Tapi, sampai dengan hari ke-12 agresi lima hari di antaranya agresi darat belum ada tanda-tanda Israel akan menguasai keadaan.

Sebuah analisis di Haaretz menyatakan bila sampai perang itu berlarut-larut, Barak dan Livni mungkin tak akan mendapat keuntungan apa-apa dari perang yang mereka gelar. Apalagi, arus opini dunia kini sudah mulai berbalik, negara-negara yang punya hubungan baik dengan Israel seperti Turki mulai mengeluarkan kecaman pedas.

Livni selalu membantah adanya krisis kemanusiaan di Gaza. Tapi, fakta memang berbicara sendiri: mayat bocah-bocah Palestina bergelimpangan. Akankah Livni dan Barak berhasil membangun kursi kekuasan dibangun di atas tragedi ini? iol/haaretz/mfa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar