Kamis, 12 Maret 2009

Obama, Israel, dan Palestina

Oleh Harun Husein
Kawasan yang diharu biru perang itu mendadak sepi. Israel yang selama tiga pekan mempertontonkan kebiadabannya di harapan miliaran manusia di Planet Bumi ‘mendadak cuti’. Padahal, perjanjian gencatan senjata Israel-Hamas yang diupayakan Mesir belum berhasil. Benarkah karena Barack Hussein Obama segera menempati Gedung Putih? Bagaimana sebenarnya posisi Obama dalam isu Israel-Palestina?Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak (unilateral cease fire) pada Sabtu (17/1), bertepatan dengan dimulainya empat hari pesta pelantikan Obama. Saat Obama naik kereta dari Philadelphia menuju Washington DC, menapaktilasi perjalanan Abraham Lincoln; mesin-mesin perang Israel sebagian buatan AS, seperti jet tempur F-15, F-16, dan helikopter Apache–tiba-tiba berhenti meraung. Pasukan Israel di Gaza dikabarkan mulai ditarik. Para pejabat militer Israel menyatakan pasukan ditarik ketika Barack Obama dilantik. Situs milik harian Israel, Haaretz, memasang gambar serdadu Israel yang mengenakan kaus, memanggul ransel besar, dan menuju tempat pemberhentian bus untuk pulang ke rumah. Sejak Sabtu sampai kemarin, yang terlihat hanya warga Gaza yang termangu di depan puing.Hamas, pihak yang sejatinya sah sebagai penguasa Palestina karena memenangkan pemilu yang demokratis, tapi diingkari termasuk oleh AS– juga mengumumkan gencatan senjata pada Ahad (18/1). Sejak itu, roket Al-Qassam tak lagi diterbangkan ke selatan Israel. Meski demikian, Hamas tetap siaga. Belum adanya perjanjian perdamaian yang mengikat, membuat suasana Gaza masih rapuh. Seperti api dalam sekam.

Gaza yang hampir sebulan menjadi pusat perhatian dunia, sejak Sabtu lalu, mulai digeser isu baru: pelantikan Obama. Dia akan menjadi presiden kulit hitam pertama di Gedung Putih. Dia diharapkan lebih banyak melakukan perubahan dibanding pendahulunya, George Walker Bush, yang mewariskan dua perang (Irak dan Afghanistan), krisis ekonomi yang terparah sejak 1930, serta berbagai soal lainnya.

Tidak bias
Berharap Obama menyelesaikan masalah Palestina sesungguhnya tidaklah berlebihan. Persahabatannya dengan Rashid Khalidi, warga Palestina-Amerika di Chicago, membuat Obama banyak mengetahui anatomi konflik di kawasan itu. Dari persahabatan itu, juga pembicaraan di meja makan yang dikerap dilakukan Obama dengan Rashid dan istrinya, Mona; Obama menyatakan pandangannya soal Palestina tak lagi bias.

Dalam sebuah acara yang digelar Rashid pada tahun 2003 lalu, Obama menyatakan, pembicaraannya dengan Khalidi itu mestinya dibawa ke forum yang lebih besar. ‘’Kita akan melanjutkan percakapan yang diperlukan, tidak hanya seputar meja makan Mona dan Rashid, tapi (percakapan yang melibatkan) seluruh dunia,’’ kata Obama. Obama berharap ‘pembicaraan besar’ itu akan terealisasi beberapa tahun mendatang.

Rashid sendiri memang pendukung Obama sejak awal. Rashid pernah menyelenggarakan acara pengumpulan dana pada tahun 2000 lalu. Saat itu, Obama sedang mengincar kursi Kongres. Saat itu, Obama gagal ke Capitol Hill. Pidato-pidato Obama saat itu masih memperlihatkan kejernihan pandangan dalam menyikapi konflik Israel Palestina. Dia menyatakan, AS perlu lebih banyak turun tangan dalam menanganinya.

Pada tahun 2007 lalu, kehebohan sempat muncul ketika Obama menyatakan, ‘’Tidak ada yang lebih menderita lebih dari warga Palestina.’’ Tapi, saat kontroversi mulai muncul, Obama meredamnya dengan membuat penegasan bahwa maksud pernyataannya itu, penderitaan disebabkan kekeliruan kepemimpinan di Palestina untuk mengenal Israel, mengurangi kekerasan, dan membuat negosiasi perdamaian serius di kawasan.

Tapi, Obama mulai memperlihatkan perubahan sikap dalam masa kampanye Pemilihan Presiden AS. Awal Juni, Obama menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat mengalahkan Hillary Clinton. Akhir Juni, Obama melakukan pertemuan dengan lobi Israel yang berpengaruh di Capitol Hill, yaitu The American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Setelah pertemuan itu, sikap Obama berubah drastis.

The Guardian menyatakan, Obama berkata kepada AIPAC apa yang ingin mereka dengarkan. Obama antara lain menyatakan, ‘’Kita tahu bahwa kita tidak bisa lunak, tidak bisa menyerah, dan sebagai presiden saya tidak akan pernah berkompromi jika itu berhubungan dengan masalah keamanan Israel.’’ Bahkan, Obama menyatakan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota Israel dan tetap tidak akan dibagi.

Pernyataan Obama yang lebih mencolok dikemukakannya saat mengunjungi Sderot–kota di kawasan selatan Israel yang dalam tiga pekan agresi Israel sering diserang roket Hamas–pada 23 Juli 2008. Saat itu, musim kampanye sedang berlangsung dan Obama sedang berhadapan dengan kandidat Partai Republik, John McCain. Saat itu, gencatan senjata Israel-Gaza baru berumur sebulan karena diteken pada 19 Juni.

‘’Jika seseorang mengirimkan roket ke rumah saya ketika dua putri saya tidur di waktu malam, saya akan mengerahkan semua kekuatan yang saya miliki untuk menghentikannya,’’ kata Obama di Sderot. Dalam pidato yang antara lain didengarkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni dan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, itu Obama menegaskan, ‘’Saya berharap Israel melakukan hal yang sama.’’

Wartawan The Guardian, Niall Stanage, dalam tulisannya ‘Obama breaks his silence on Gaza’ pada 7 Januari lalu, mengkritik sikap Obama tentang isu Israel-Palestina ‘’Sayangnya, pada saat di Sderot itu, Obama tidak menyampaikan bagaimana sikapnya jika sebuah negara asing mengokupasi wilayah AS, menembakkan misil ke sekolah-sekolah anaknya, dan membunuh (warga AS) di daerah pendudukan itu.’’

Pernyataan Obama itu, menurut Ehud Barak, merupakan justifikasi untuk melancarkan serangan. ‘’Obama mengatakan bahwa jika roket ditembakkan ke rumahnya ketika dua putrinya sedang tidur, dia akan melakukan apa saja yang mungkin untuk mencegahnya,’’ katanya. Lima bulan kemudian atau 27 Desember 2008, Israel mengerahkan pasukannya untuk menyerang Jalur Gaza, membunuh 1.300 orang Palestina, dan melukai 5.300 orang lainnya.

Prihatin
Saat mesin-mesin perang Israel membunuh secara membabi buta, tak peduli anak-anak ataupun perempuan, Obama malah berlibur ke Hawaii. Padahal, ketika Mumbai diserang, mantan senator dari negara bagian Illinois ini menyampaikan pernyataan yang sangat detail. Begitu pun ketika dia membicarakan penanganan krisis ekonomi di AS.

Hingga hari ke-10 serangan Israel ke Gaza dan jumlah korban tewas sudah mencapai 566 orang dan 2.400 terluka, Obama tak kunjung mengeluarkan pernyataan. Baru pada hari ke-11 atau 7 Januari–ketika Israel menyerang dua sekolah PBB dan menewaskan 43 orang–Obama angkat bicara. ‘’Hilangnya nyawa warga sipil di Gaza dan Israel merupakan sumber keprihatinan mendalam bagi saya,’’ kata Obama.

Sebelas hari serangan Israel, Obama mengaku diam karena tak ingin ada ‘matahari kembar’. Sebab, meski telah menjadi presiden terpilih, Bush masih menjabat. ‘’Setelah 20 Januari, saya akan menyampaikan banyak hal tentang isu (peperangan di Gaza).’’Diamnya Obama dinilai Mark Perry, direktur Forum Konflik Washington, sebagai sesuatu yang kompleks. ‘’Obama telah mengatakan bahwa Israel memiliki hak untuk mempertahankan dirinya dari roket (Hamas). Tapi, pernyataan saya kepada dia, ‘Apakah dia percaya bahwa warga Palestina juga memiliki hak untuk mempertahankan diri?’,’’ katanya.

Banyak orang Arab yang relatif optimistis terhadap kemenangan Obama. Ada keyakinan bahwa wajah baru di Gedung Putih itu akan menghadirkan sesuatu yang lebih baik dibanding Bush–yang menginvasi Irak dan memberi dukungan teramat besar kepada Israel. Tapi, setelah Obama memilih Hillary Clinton sebagai menteri luar negeri dan Rahm Emanuel sebagai pimpinan Gedung Putih, perubahan itu kian diragukan.

Banyak memang yang memberi pembenaran terhadap sikap diam Obama itu. Ahli politik Mesir yang juga Sekjen Forum Pemikiran Arab yang bermarkas di Amman, Hassan Nafaa, misalnya, menyatakan sikap diam Obama itu memperlihatkan Obama ingin berhati-hati. ‘’Saya pikir, dia akan tetap berhati-hati sebab konflik Arab-Israel bukan prioritas utamanya.’’’’Posisi Obama sangatlah genting. Lobi Yahudi telah memperingatkannya… jadi dia harus tetap diam (dalam masalah Gaza),’’ kata Hilal Khashan, profesor politik di American University of Beirut.

Penulis AS yang berasal dari Palestina, Ali Abunimah, menyatakan, sejak primary Partai Demokrat tahun 2004, yang antara lain membuat Obama terpilih menjadi anggota senat, Obama telah meminta maaf kepadanya karena tidak bisa terlalu vokal lagi menyuarakan isu Israel Palestina. Ali mengatakan, Obama menyebut adanya pertimbangan politik di balik sikapnya.Mengutip Obama, Ali menyatakan, ‘’Saya berharap, ketika semua (persoalan politik–Red) ini reda, saya akan berdiri paling depan (dalam masalah isu Palestina-Israel).’’

Lantas, apa kata sahabat Palestina Obama, Rashid Khalidi? Kepada The New York Times, dia tidak terlalu gembira dengan posisi yang telah diraih Obama. ‘’Tapi, saya tidak bisa mengatakan kecewa. Orang mengira dia adalah seorang santo. Tidak. Dia adalah seorang politikus.’’ guardian/reuters/haaretz/aljazeera

Sumber: Republika, 21 Januari 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar